Uskup Palangka Raya Grogi saat Misa Syukur Pesta Perak

By Tuliem 12 Mei 2026, 11:24:36 WIB Berita Daerah
Uskup Palangka Raya Grogi saat Misa Syukur Pesta Perak

Keterangan Gambar : Uskup Keuskupan Palangka Raya Mgr Aloysius M Sutrisnaatmaka bersama sejumlah uskup mengikuti iring-iringan anak-anak menuju tempat digelarnya puncak pesta perak Pentahbisan Episcopal dirinya di Katedral Palangka Raya, Minggu (10/5/2026). Foto: Jwm


Uskup Keuskupan Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Mgr Aloysius Sutrisnaatmaka MSF mengaku sempat grogi saat melihat antusias umat, dan hadirnya Sekretaris Kedutaan Vatikan untuk Indonesia beserta belasan uskup dari berbagai daerah, saat misa syukur Pesta Perak Pentahbisan Episcopal dirinya.


Rasa grogi itu karena seluruh rangkaian acara pesta perak sedari awal sampai puncaknya sangat istimewa dan memberikan banyak kesan, kata Mgr Aloysius di Palangka Raya, Senin.

Baca Lainnya :


"Jadi, saya mencoba tetap tenang agar tidak terlihat grogi. Aslinya grogi juga," tambahnya.


Petinggi umat Katolik Kalteng itu pun membenarkan pakaian yang dipakai dirinya saat Misa Syukur, sama persis 25 tahun silam ketika Pentahbisan sebagai Uskup Keuskupan Palangka Raya.


"Kalau ditelisik lebih jauh, sepatu yang saya pakai saat ini, sama persis 25 tahun silam. Kalau tidak percaya, silahkan lihat di video Pentahbisan yang diputar tadi," beber Mgr Aloysius.


Sebelumnya, Ketua Panitia Pesta Perak sekaligus Vikjen Keuskupan Palangka Raya Pastor Silvanus Subandi mengenang awal kedatangan Mgr Aloysius ke Kalimantan Tengah pada Mei 2001. Di mana ketika itu, provinsi ini masih berada dalam suasana pasca-krisis yang penuh tantangan.


"Rasanya baru kemarin, karena saya pun terlibat dalam kepanitiaan 25 tahun yang lalu. Saat itu kita masih diliputi suasana tegang pasca-krisis. Kehadiran beliau membawa pesan damai dan semangat kebersamaan," beber Pastor Subandi.


Semangat perdamaian itu, lanjutnya, tercermin melalui berdirinya Seminari Menengah Raja Damai di belakang Gereja Katedral Palangka Raya. Nama 'Raja Damai' dipilih sebagai simbol harapan, agar masyarakat terus bertumbuh dalam persaudaraan dan melupakan luka masa lalu.


Dalam 25 tahun kepemimpinannya, Mgr Aloysius juga dinilai berhasil membawa Gereja Katolik semakin dekat dengan masyarakat, terutama melalui pelayanan sosial dan kesehatan. Salah satunya ditandai dengan hadirnya Rumah Sakit Primaya Betang Pambelum.


"Kehadiran rumah sakit ini bukan semata dimensi bisnis kesehatan, tetapi bentuk pelayanan gereja kepada masyarakat demi peningkatan kualitas hidup," demikian Pastor Subandi.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment